The Daniels Blog

Berpikir, Berpendapat, dan Berbagi

Bloopers Tugas Akhir PART 2

avoidance300Hidup @ Perjuangan… Itulah kata – kata yang saya tuliskan di baris terbawah pada kertas notulen saat saya ditunjuk sebagai notulen oleh Indri (pacar saya) saat seminar proposal TAnya… Memang secara umum temanya dapat diteruskan, namun jalannya seminar agak diluar dugaan saya… Minimal tidak selancar yang saya bayangkan… Dari seminar Indri, lantas terbesit di otak saya “bloopers” baru yang mungkin belum saya sebutkan pada tulisan saya sebelumnya (baca Bloopers Tugas Akhir)

Yang jelas, Indri merupakan contoh “negatif” dari Tugas Akhir yang dilaksanakan pada perusahaan. Mengapa? Ibarat memilih sepatu, indri sebenarnya sudah jatuh hati pada sepatu merk Gosh warna pink ukuran 34…Tapi ternyata setelah sampai di toko sepatu bahkan sampai muter – muter Semarang ternyata tidak ada sepatu merk Gosh warna pink ukuran 34, yang ada ukuran 37, 38, 39…

Begitu pula yang terjadi dengan indri, awalnya saya yakin seyakin-yakinnya bahwa Indri tidak ingin mengambil tema yang sekarang dia ambil..Waktu itu kalau tidak salah tema yang ingin diambil adalah “inventory multiechelon”, saya yakin tema ini belum ada di RBTI, meskipun di universitas lain sudah ada.. Nah, berhubung kenyataan diperusahaan berkata lain (distributornya adalah third party) jadi tema tsb tidak memungkinkan untuk dijalankan.

Sampai akhirnya indri “dipaksa” mengambil tema forecasting dan replenishment sesuai yang diminta oleh perusahaan..Dalam proses pengerjaan TA ini pun terlalu banyak masalah, terutama yang berkaitan dengan data dan mekanisme PPICnya.. Terlalu banyak faktor x disana.. Namun, untungnya (atau mungkin celakanya) saat itu sang dosen pembimbing menyetujui tema tersebut, sehingga waktu itu kita lebih sering berdiskusi masalah teknik PPICnya daripada masalahnya… Parahnya lagi, sang dosen pembimbing meminta semua data dan pengolahan harus sudah jadi (fixed) sebelum seminar, sehingga seminarnya agak molor…

Nah, akhirnya waktu seminar, sang dosen penguji (kebetulan pembimbing saya – jadi dilema nih..) “menghajar” indri dengan pertanyaan2 “mendasar” berkaitan dengan permasalahan sebenarnya diperusahaan…Saya pikir indri memang kurang siap dalam menjawab pertanyaan model ini…Bahkan menyamakan TA indri dengan tugas praktikum!! Padahal dosen pembimbing Indri adalah pengampu PPIC yang saya pikir punya andil dalam penyusunan materi praktikum PPIC…

Lho kok bisa lanjut sampai seminar? Itulah yang saya tidak habis pikir….

Tapi saya juga salut terhadap sang dosen pembimbing, karena biar bagaimanapun saat seminar beliau berusaha untuk meng”cover” indri dan meskipun menurut saya sudah agak terlambat beliau memberikan banyak nasehat dan masukan perbaikan buat indri…Tidak seperti dosen pembimbingnya temen saya yang lain yang dengan santainya saat sang mahasiswa bimbingan “dipojokkan” oleh dosen penguji berkata “Ya.. saya setuju dengan usulan bapak penguji, saya pikir metode ini tidak dapat dilanjutkan..” Wah, sudah jatuh tertimpa tangga…

Sebenarnya saya juga menyambut baik apa yang terjadi waktu di seminar Indri., yang tiada lain adalah perihal STANDARISASI TUGAS AKHIR…Waktu itu “seakan – akan” dosen penguji memberikan batasan yang jelas mengenai level TA…Masalahnya adalah : apakah semua dosen memiliki standard yang jelas dan seragam perihal standar TA??

Yang saya khawatirkan adalah, saat indri menghadiri seminar TA temen lain, terjadi ketidakadilan disini sehingga bisa saja indri berkata “kok kaya’ gini bisa lolos dengan selamat sih…” sebenarnya masalah ini telah lama ada diotak saya…

Tapi yang jelas, pada Tugas Akhir temen – temen sebelum indri “cukup banyak” (tidak semuanya tapi tidak sedikit pula) yang menurut saya kurang memenuhi level kelayakan sebuah TA yang dengan Kerja Praktek saya saja lebih sulit KP saya (maaf saya tidak bermaksud kasar dan takabur)… Faktanya bahkan ada TA temen yang isinya hanya merupakan bagian dari KP saya…Sekali lagi saya tidak bermaksud untuk sombong dan ingin merendahkan, namun kenyataan memang berkata demikian… Bahkan semangat meneliti saya sempat “hancur” saat melihat seminar temen yang menurut saya dan teman – teman kurang layak namun diloloskan, dan suasana seminar yang benar – benar berbanding terbalik dengan seminar indri…

Apa perlu dibuatkan TA dengan tema Standarisasi Tugas Akhir pada TI UNDIP ??

Sebenarnya kelayakan TA dinilai dari apanya? Metode nya? Kerumitan nya? Atau jangan – jangan formasi dosen pembimbing dan pengujinya??

Itulah mungkin serangkaian pertanyaan yang belum terjawab dan masih berputar – putar diotak saya.. Tapi apakah permasalahan atau rahasia umum ini akan dibiarkan terus mengendap?

Akhirnya, saya hanya berharap semoga kelak suatu saat nanti terdapat batasan yang jelas perihal TA sehingga tercipta lingkungan yang kondusif untuk menggelorakan semangat “riset” di TI UNDIP… Dan buat indri, cintaku.. Keep the faith!! Tetaplah yakin pada keyakinan yang selama ini kita yakini.. Semoga bisa seperti bangsa Jepang yang meskipun sudah hancur lebur di BOM ATOM Sekutu tetap bisa bangkit menjadi salah satu Macan Asia!!

November 18, 2008 - Posted by | Pemikiran dan Pendapat Saya |

8 Komentar »

  1. makasih ya hunnyku….sudah bersimpati ma keadaanku….
    sebenarnya aku juga bingung harus seneng atao sedih ma hasil seminarku….di satu sisi aku seneng+mumet sih dapet masukan dari dosen2 penguji..di sisi lain sebenarny aku agak kecewa juga sama hasil seminarku… kayaknya cenderung ke gagal dibanding ke berhasilnya……. ….

    Komentar oleh lovelara | November 19, 2008 | Balas

  2. Ralat, Om.
    Sudah jatuh tertimpa tangga sekarang sudah berganti “SUDAH JATUH MENELAN TANGGA” …😀 lebih hebooooh!

    Idealisme saya, sebuah tema tugas akhir diuji oleh peer group. Seperti punya Indri, harusnya diuji para dosen dari setidaknya dua lab, yaitu LSP dan OPSI. Masalahnya, apakah para dosen benar-benar mengblem uasai atau pakar dalam bidang labnya dan turunannya? Ini problem pertama.

    Kedua, sebagaimana dalam tulisan Pak Asnug, problem kedua adalah dosen pembimbing seharusnya tidak lagi membiarkan para mahasiswa yang dia bimbing mengambil sembarang tema. Seorang dosen yang juga peneliti seharusnya memberikan batasan dan menjaga keberlanjutan penelitiannya. Nah, untuk kampus kita, idealnya setiap dosen memiliki bidang kajiannya … kemudian menjadikan bidang tersebut sebagai bidang penelitian mahasiswa bimbingannya.

    Ketiga, mengapa dosen tidak bisa fokus pada tema penelitiannya? Mari lihat tugas dosen. Ada tiga unsur utama: pengajaran, penelitian dan pengabdian kpd masyarakat. Plus jika menjabat struktural, bertambah lagi amal sholihnya (kalau tugas2nya jadi kacau, apa bisa disebut amal sholih ya???).

    Keempat, apakah penelitian bisa menjadi sandaran hidup para dosen? Jawabnya: BELUM! ini berarti ada tambahan tugas dosen selain 3+1 di atas, yaitu BERTAHAN HIDUP!

    Semuanya akan mengerucut ke pokok masalah postingan Daniel, yaitu proposal penelitian sangat rapuh dan jika ketemu dengan dosen penguji yang kritis (ehem … ehem … siapa tuh?) akan terjadi … maaf … “ajang pembantaian”.

    Saya pribadi, mencoba mengerucutkan pada bidang Decision Science. Enaknya (atau susahnya?) Decision Science bisa masuk di setiap bidang minat di kampus (HIS, SCS dan QS)😀 atau😦 nih?

    end of statement …

    NB: Sebenernya proposal Indri kemarin itu salah tema, salah pilih masalah atau salah milih dosen penguji?😀

    Komentar oleh singgihs | November 19, 2008 | Balas

  3. @lovelara
    Seminar kan tidak berdampak apapun ke penilaian. Namanya dilamar, maka yang dilamar kan boleh mengajukan berbagai request.😀

    @Daniel
    Keep faith gak pas untuk masalah ini … yang bener keep fight! (ing)

    Komentar oleh singgihs | November 19, 2008 | Balas

  4. Waduh kasihan banget kamu niel..
    Pantesan uban kamu tambah banyak..
    Ga cuman mikirin TA km yg super ruwet,tp plus mikirin TA-nya cinta..😀
    malah kesannya kamu yg bingung sendiri..hehe..🙂

    Titip salam aja y buat Indri..
    TETEP SMANGAT!!!

    Komentar oleh Alfin | November 19, 2008 | Balas

  5. @ cinta : siapa bilang.. kan proposalmu diterima dan boleh lanjut…mungkin maksudnya pak singgih biar kita lulus nya bareng, jadi agak disusahin dikit…

    @ pak singgih : salah apanya ya pak…bingung juga nih… mungkin lebih ke “bad luck” aja pak… Terus “keep the faith” tu maksudnya biar si cinta ga terlalu “down” dengan tetap yakin pada apa yang selama ini kita yakini pas kita diskusi…Ya ujung2nya “keep fight!!”

    @ alvin : rambut putih kagak ada hubungannya sama mikirin TA vin… Uda keturunan…Btw Rambut ente putih juga to😀

    Komentar oleh mrdaniels | November 19, 2008 | Balas

  6. comment bout TA-quw dunk niel..

    Komentar oleh meta | November 19, 2008 | Balas

  7. comment bout TA-quw dunk niel..
    Need it a lot sebelum menemui ‘tkg parkir’

    Komentar oleh meta | November 19, 2008 | Balas

  8. @all
    Rambut putih itu karena pembimbingnya pak sing😀 Lihat tuh Mr WB, meski dah lulus dia nggak jadi gemuk, malah kurus. Sekarang dia lagi masa recovery setelah trauma bimbingan ama pak sing😀

    Komentar oleh singgihs | November 19, 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: