The Daniels Blog

Berpikir, Berpendapat, dan Berbagi

Dari Presentasi Praktikum Simulasi Komputer (Sikom)….

confuseSesuai jadwal, hari Jumat, Sabtu, Minggu yang lalu, saya, kedua temen asisten praktikum Sikom (Alvin dan Wiwik), dan juga Pak Singgih selaku dosen pengampu mata kuliah Sikom mengadakan presentasi praktikum yang diikuti oleh temen – temen angkatan 2005. Mungkin menurut saya bagi sebagian temen – temen 2005 akan berpikir “Hare gene masih praktikum??!!” Tapi ya mau bagaimana lagi, standard kurikulum yang baru mensyaratkan adanya praktikum ini, jadi ya “the show must go on..” Secara garis besar menurut saya, praktikum yang terdiri dari 3 modul ini cukup lancar…Saya pikir “nama besar” Pak Singgih adalah salah satu faktor terkuat sehingga temen – temen 2005 tidak menganggap remeh praktikum ini…Saya melihat antusiasme dan semangat angkatan 2005 dalam mengerjakan praktikum ini, meskipun di modul 3 saya merasa “greget” itu mulai hilang tidak seperti di modul 1 dan 2…

Dari presentasi itu mungkin terdapat catatan – catatan yang bisa saya bagi melalui postingan saya kali ini.. Entah itu dari saya, atau dari temen – temen 2005 sendiri… Semoga ada hal yang dapat kita pelajari dari sini…

Pertama, akan saya mulai dari “kesalahan” saya dulu… Presentasi ini lebih menitikberatkan pada modul 3 yaitu simulasi sistem kompleks..Nah, berhubung namanya saja sistem kompleks, maka saya dan temen – temen asisten yang lain tidak membuat program simulasi nya (tidak seperti modul 1 dan 2)…Hal ini ternyata berakibat pada kurangnya pendalaman kami terhadap soal, sehingga banyak hal – hal yang janggal yang baru kami sadari saat praktikum berlangsung, sehingga kami bertiga cukup “kewalahan” juga…Waktu penyusunan modul dulu, kebetulan saya yang dipasrahi untuk mengkoordinasikan soal dari temen – temen, untuk modul tiga sendiri awalnya saya diberi 4 alternatif soal dari buku Law Kelton dan Banks, setelah saya lihat, baca, dalami sebentar menurut saya ada 2 soal yang dapat dikaji lebih lanjut untuk dijadikan soal..Kemudian saya translate (nah…saya pikir letak kesalahannya seringkali pada kesalahan penafsiran)..Waktu itu saya juga kurang mendalami angka – angka yang ada dalam soal sehingga sering muncul ambiguitas soal…Yah…semoga untuk selanjutnya temen – temen dapat lebih benar – benar mengerti dan mendalami soal, sehingga kesalahan modul 3 ini tidak terulang lagi…

Selanjutnya adalah dari praktikan, salah satu hal yang janggal saat praktikum adalah tidak sedikit kelompok yang melakukan kesalahan dalam membuat flowchart dari sisi teknis nya (masalah simbol, prosedur pemodelan)…Bukankah seharusnya mereka sudah paham betul teknik memodelkan dengan flowchart?? Aneh tapi nyata…

Masalah berikutnya adalah…Sebenarnya ini adalah masalah klasik…Yaitu masalah copy paste atau plagiatisme…Perasaan dari tahun ke tahun, dari angkatan ke angkatan hampir pasti mata kuliah yang diampu Pak Singgih sering “memakan korban”…Banyak temen – temen (termasuk angkatan saya juga) harus mengulang mata kuliah Pemodelan Sistem dan Simulasi Komputer karena “tertangkap basah” melakukan praktik copy paste yang haram…Yah..Bagi mahasiswa masalah ini sama seriusnya dengan masalah korupsi bagi Indonesia…

Saya ingin merunut kembali makna mencontoh…Albert Einstein berkata : “Mencontoh bukanlah salah satu cara untuk belajar, tapi satu – satunya cara untuk belajar”…Tapi mencontoh seperti apa? Hal ini yang perlu kita dalami lebih lanjut. Sebenarnya saya yakin temen – temen pasti sudah paham bagaimana mencontoh yang “halal” dan “haram”. Buktinya, sewaktu ada kasus “plagiatisme” semacam waktu praktikum Sikom temen – temen pada bingung sendiri, hal ini menandakan bahwa sebenarnya temen – temen itu paham mana yang halal dan haram.

Jelaslah kejadian sikom itu adalah mencontoh yang haram, karena terdapat 3 kelompok dengan kesalahan yang sama, perulangan yang sama sebanyak 5 kali..Weleh..weleh… Salah satu dari 3 kelompok itu adalah praktikan saya…Sesudah praktikum, praktikan saya itu berusaha menjelaskan kepada saya bahwa kelompoknya lah yang pertama membuat masterannya..Saya berusaha percaya, mengingat praktikan saya ini termasuk salah satu yang rajin..Jadi sementara ini saya berusaha menampung klaim mereka..Tapi masalahnya adalah : “judge”nya bukan saya..

Memang sih, saya sendiri pernah mengalami kondisi dilematis..Saat temen meminta sebagian pekerjaan yang telah saya kerjakan, disatu sisi ada perasaan semacam ga terima, was –was..Tapi disisi lain takut juga dikira saya pelit…Jadi waktu itu terpaksa saya bikin 2 versi…Untuk menghindari hal – hal yang tidak diinginkan…

Saya pikir2 lagi kok benar juga ya kata Mbah Einstein, baik mencontoh yang haram maupun halal merupakan satu2nya cara untuk belajar, yang halal??..Jelas..Yang haram?? Ya biar belajar mandiri, ga terus – terusan jadi benalu, belajar untuk bekerja keras, atau paling ga belajar untuk berhati – hati kalau nyontek…(Itupun kalo ada yang ngajari…)…Lalu dari sisi victim alias korban plagiatisme alias masterannya ya belajar untuk berhati – hati dalam bertindak (saya pernah balajar bahwa kesalahan itu terkadang mahal harganya…)

Terakhir selain kedua kejadian diatas, presentasi sikom menyisakan tanda tanya lagi buat saya… Sewaktu pak Singgih mengajukan pertanyaan yang menurut saya simple sakali, yaitu “Apa parameter distribusi dari Material A?”..Jawabannya jelas terpampang di soal…Namun tidak satupun dari keempat praktikan itu bisa menjawab…Hal ini kontan bikin Pak Singgih agak sedikit marah..Weleh..weleh…Padahal kan pas bikin modelnya pasti memasukkan parameter distribusi to…

Tanda Tanya nya adalah…Jangan – jangan sebagian dari kita tidak memiliki pemahaman yang mendalam mengenai teori – teori yang selama ini kita peroleh di bangku kuliah…Jadi seolah – oleh kita hanya bisa menggunakan tools (entah itu software atau rumus) tanpa mengetahui lebih lanjut bagaimana menginterpretasikannya? Bagaimana mengolahnya? Bagaimana menganalisanya?? Apakah ini juga akibat dari budaya masteran??? Padahal poin – poin diatas menurut saya adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang sarjana teknik…It’s terrible!!

Budaya masteran ternyata sudah membuat kita terlena dengan segala kemudahannya… Terlena karena ternyata selama ini otak kita dididik untuk menjadi “juru ketik” bukan menjadi sarjana…Yah..Mungkin kalau boleh saya ngomong ke temen – temen semua…Terkadang kita ingin meraih dan menyelesaikan sesuatu tanpa usaha, kita cenderung tidak sabar, ujung – ujungnya curang…Yah, terkadang ini menjadi realita bagi kita semua..Tidak semua dari kita dilahirkan dengan kecerdasan yang sama…Tapi sebenarnya kita memiliki semangat yang sama, seperti kata Michellangello bahwa sebenarnya semua batu besar itu adalah patung yang indah, tergantung bagaimana kita membuang bagian – bagian yang membelenggu keindahannya…Sebenarnya semangat kita sama, tergantung bagaimana kita membuang bagian – bagian yang membelenggu semangat kita, termasuk budaya masteran itu…Ingatlah segala sesuatu yang kita lakukan pasti ada akibatnya…Kita tidak mungkin dapat mengubah arah angin yang begitu kencang, tapi kita dapat mengubah arah layar.. Kita tidak mungkin dengan cepat menghapuskan praktik masteran ini dikampus kita, namun jangan belenggu otak kita untuk belajar karena terpikat kemudahan dan orientasi nilai semata…Kawanku..Mulailah berbuat sesuatu yang baik sekarang secepatnya, sebelum segala sesuatunya akan bertambah buruk nanti…

Desember 16, 2008 - Posted by | Pemikiran dan Pendapat Saya | , , ,

3 Komentar »

  1. pertamax….🙂
    setujuh niel..heran banget sih sebagian anak 05 blon mnyadari dampak buruk copy-paste pembuatan laporan bagi kesehatan,..kan ntar bisa stress kalo ada matkul yg ga lulus gara2 dapet E..hehe..😆
    kalo nyontek y harusnya kreatif dikit napa ya..
    kalopun mo copy paste dari laporan pihak lain ini ada sedikit tips yang bisa membantu:
    1. Dibaca dulu !!!
    Lha ini kesalahan yg paling mencolok tidak dilakukan oleh para plagiator 05 kmarin..Enak bgt y, tinggal menggerakkan dua jari ibarat sulap (ctrl+C ctrl+V), sim salabim..laporan sudah jadi..Padahal ada kata yang jelas-jelas salah..hehe
    2. Ganti font dan ukurannya
    Klo ini sih hanya sedikit mengecoh untuk jurus ‘menerawang’, dan sangat g disaranin..
    3. Ubah kalimat yg aktif mnjadi pasif atau sebaliknya,yah dieditlah pokoknya.
    4. Baca, pahami dan tulis ulang dengan bahasamu sendiri.
    Ini yang paling dianjurin, karena kamu telah menulis laporanmu dengan buah pikir dan kata-katamu sendiri dan dijamin terbebas dari tuduhan mnyontek..

    peace..:mrgreen:

    Sipp..Ikutilah tips2 Mas ALvin…

    Komentar oleh alfin | Desember 16, 2008 | Balas

  2. waduh2…jadi malu niy, sebagai bagian dari praktikan…hihihihi…😀
    ya gi tu deh…aneh bin ajaib, kirain tu temen2 dh pada ngerti kalo hukumnya ngopy tu ya musti diganti…bukan yg nyontekin yg harus ngganti…hehehehehe…

    sip mas daniel..ini pelajaran penting buat kami…

    Better late than never lah pokoke…Be long life learner..

    Komentar oleh risma-risma | Desember 20, 2008 | Balas

  3. Kecurangan kemudian ketahuan adalah bagian nasib baik. Semoga jadi penebus dosa. Tapi kecurangan tapi tidak ketahuan, kira-kira akan ngaku kapan? Kalau ngaku bukankah dosen berhak membatalkan ijazahnya? Lha akhirnya kecurangan dan tidak ketahuan akan berbuah siksa (neraka).
    Mau pilih mana?
    Pendidikan ini adalah pendidikan orang dewasa … Anda sudah tahu dan seharusnya siap menanggung resikonya. Tinggal mau nanggung kapan (sekarang atau nanti) itu saja masalahnya.


    Waduh..Berat Pak…Jadi kaya ceramah agama nih…
    Sekarang tinggal bagaimana teman – teman bisa memaknainya….

    Komentar oleh singgihs | Desember 20, 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: