The Daniels Blog

Berpikir, Berpendapat, dan Berbagi

Hasil Kuesioner eCommerce & ePayment – Part 1

Beberapa waktu yang lalu akhirnya saya membuat kuesioner online terkait dengan topik yang sedang saya kaji yaitu  mengenai e-commerce dan e-payment. Hal ini saya lakukan karena sulitnya memperoleh data yang akurat dan update terkait dengan awareness masyarakat Indonesia terkait dengan e-commerce dan e-payment ini. Meskipun sampel yang saya ambil ini terutama adalah teman SD, SMP, SMA, kuliah hingga temen kantor , senior, junior, keluarga, dosen, hingga kenalan yang saya temui di facebook dan YM, saya berusaha untuk seoptimal mungkin mengacak nya (seperti yang dapat dilihat pada karakteristik sampel untuk segment 1) sehingga Insya Allah hasil yang saya peroleh dapat menjadi acuan saya dalam membuat kajian mengenai e-commerce dan e-payment.

Kuesioner ini menggunakan metode stratified – non probability sampling, dimana kuesioner ini saya tujukan ke 3 segmen yang saya bedakan menurut umur. Segment pertama antara 21 hingga 25 tahun, segment kedua antara 25 hingga 30 tahun, sedangkan segment terakhir diatas 30 tahun. Untuk masing – masing segment saya ambil 35 – 40 sampel.  Selanjutnya untuk setiap segment juga akan diidentifikasi lagi karakteristik jenis kelamin, pekerjaan, hingga sebaran usia.

Dari pembagian segment tersebut selanjutnya dapat diketahui karakteristik dan awareness dari masing – masing segment, sehingga saya berharap dapat dijadikan referensi dalam pembuatan kajian dalam pengembangan produk katiannya dengan e-commerce dan e-payment.

Berikut adalah hasil dari kuesioner bagian pertama untuk segment umur 21 hingga 25 tahun.

Karakteristik Responden

  • Jumlah total responden : 46 orang
  • Karakteristik berdasarkan jenis kelamin :
  • Karakteristik berdasarkan pekerjaan :
  • Karakteristik berdasarkan usia :

Berikut adalah hasil kuesioner untuk pertanyaan pertama hingga ke dua


Berdasarkan hasil kuesioner, diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden untuk segment 1 ini mengetahui bahwa mereka dapat bertransaksi secara online. Namun meskipun mereka mengetahui bahwa mereka dapat bertransaksi, hanya 56 % yang pernah bertransaksi melalui internet atau secara online. Berikut adalah penyebab mengapa mereka enggan bertransaksi secara online.

Sebagian besar responden menganggap bahwa penyebab mereka enggan untuk bertransaksi secara online adalah permasalahan faktor keamanan dalam bertransaksi. Sedangkan faktor – faktor lain seperti belum memiliki pengalaman yang memadai hingga ketidakadaan kartu kredit sama – sama memiliki presentase yang hampir sama, yaitu antara 15 hingga 19 persen. Hal ini tentunya menandakan bahwa faktor keamanan masih menjadi “top of mind” responden terkait ke-engganan mereka dalam bertransaksi online.

Selanjutnya, ketika responden ditanya apakah mereka takut untuk bertransaksi online dan bagi mereka yang takut apakah alasannya, berikut adalah hasilnya :

Berdasarkan hasil kuesioner diperoleh simpulan bahwa ternyata masih ada sebagian responden (35%) yang takut untuk bertransaksi secara online melalui internet. Dan ketika ditanya apa alasannya, ternyata lagi – lagi terkait dengan permasalahan keamanan bertransaksi, bahwa responden masih merasa takut bila terjadi fraud (penyalahgunaan informasi finansial). Selain itu, responden juga merasa takut bertransaksi dikarenakan khawatir apabila barang yang diterima tidak sesuai dengan yang dipesan (permasalahan trust).

Selanjutnya, ketika responden ditanya alat / modus pembayaran apa yang menurut mereka paling aman, berikut adalah hasil kuesionernya.

Ternyata, sebagian besar responden merasa bahwa alat pembayaran yang dianggap paling aman adalah Cash on Delivery dan Transfer (42%). Disamping itu media transfer ternyata menurut mereka dianggap sebagai modus pembayaran yang paling nyaman, menyusul selanjutnya modus pembayaran COD,  internet/phone banking, dan  Kartu Kredit.

Sedangkan ketika responden ditanya mengenai situs atau forum e-commerce yang paling familiar menurut mereka, Kaskus dan Bhinneka masih berada pada presentase teratas.

Terkait dengan awareness responden berkaitan dengan keberadaan e-payment processor yang ada, yaitu Paypal dan Kaspay (payment processor buatan Kaskus) ternyata sebagian besar responden belum begitu familiar dengan kedua payment processor tersebut. Berikut adalah hasil kuesionernya :

Selanjutnya, ketika responden ditanya apakah bila point – point yang menyebabkan mereka takut dan enggan melakukan transaksi online diperbaiki, apakah mereka menjadi berminat melakukan transakasi online berikut adalah jawaban mereka…

Disamping dari hasil polling tersebut, terdapat beberapa comment dari responden yang cukup memberikan masukan bagi saya terkait dengan kuesioner ini, diantaranya :

  • Dari mbak Ratih : “ Transaksi online sebenarnya cukup efisien dari segi waktu dan effort, namun belum kuatnya regulasi di Indonesia membuat orang enggan, krn tdk adanya perlindungan hukum terhadap terjadinya fraud. Selain itu kasus kriminalitas transaksi online yang di publish dengan cukup dasyat dan kurangnya publishing mengenai benefit transaksi online, membuat orang awam semakin takut untuk coba-coba”
  • Dari mas Sonny : “ Saya masih agak ragu untuk bertransaksi online dikarenakan di beberapa situs yang saya anggap cukup baik, ternyata masih ada beberapa user yg melakukan penipuan.
  • Dari mas Landy : “mgkn blm bth transaksi ol y… slama pasar masih ada :)

Kesimpulan sementara yang bisa saya ambil :

Dari hasil kuesioner awal untuk segment 1, mengindikasikan bahwa ternyata kebanyakan dari mereka mengetahui dan pernah bertransaksi online, hal ini sesungguhnya merupakan peluang bagi industri e-commerce di Indonesia. Namun, masalah klasik yang harus segera diselesaikan seperti hal nya yang disampaikan mas Sonny dan Mbak Ratih adalah terkait ke masalah keamanan dalam bertransaksi online.

Segment ini ternyata juga lebih memilih media transfer sebagai media pembayaran yang aman dan nyaman. Hal ini dimungkinkan karena sebagian besar dari mereka masih belum memiliki kartu kredit dan mesih belum aware terhadap internet / mobile banking serta ePayment processor. Padahal sebenarnya dari segi kenyamanan modus ini lebih nyaman dibanding dengan modus transfer, karena kita tidak perlu beranjak dari PC atau netbook ke ATM untuk melakukan pembayaran.

Namun sebenarnya, potensi untuk bertransaksi online bagi segment ini masih terbuka lebar, dilihat dari hasil persentase pada pertanyaan akhir kuesioner ini.

Segment ini sudah aware dengan e-commerce namun masih butuh edukasi dan promosi terkait dengan e-payment processors.


Desember 14, 2009 - Posted by | Cerita Saya, Pemikiran dan Pendapat Saya, Saya dan Komputer | , ,

1 Komentar »

  1. mas… minta izin untuk make hasil polling nya mas,kebetulan saya lagi keperluan ttg e-commerce, trims

    Komentar oleh Ridwan | April 11, 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: