The Daniels Blog

Berpikir, Berpendapat, dan Berbagi

Potret Dunia E-Commerce Indonesia

Belakangan, setelah adanya tren social networking semakin terjangkaunya internet, tren internet di Indonesia menjadi semakin berkembang. Internet sekarang sudah bukan menjadi barang mahal, bahkan dewasa ini industri ponsel pun beramai – ramai mem – bundling ponselnya dengan aplikasi – aplikasi internet, seperti facebook, YM, dll.

Berdasarkan infromasi dari “biang” internet Indonesia, Pak Onno W Purbo, menyebutkan bahwa Indonesia hari ini diservis oleh 40-an Internet Servis Provider (ISP) dari 130-an ISP lisensi yang ada. ISP Indonesia melayani sekitar 1,5 juta pengguna aktif. Mereka sebagian besar anak muda 20-30 tahun & berpendidikan SMU ke atas.

Hmm.. padahal menurut internetworldstats, tingkat pertumbuhan internet di Indonesia mencapai 1000% lebih dari tahun 2000 ke tahun 2009, dan Indonesia masuk ke 10 besar pengguna internet pada kuartal ke 2 2009. Seperti pada bagan berikut :

Dari bagan diatas, diketahui bahwa Indonesia menempati peringkat kelima dibawah China, Jepang, India, dan Korea. Dengan estimasi jumlah pengguna internet sekitar 25 juta orang.  Untuk detail mengenai penetrasi  dan laju pertumbuhan, dapat dilihat pada tabel berikut.

Berdasarkan data diatas, dapat dilihat bahwa sebenarnya potensi e-commerce untuk terus berkembang di Indonesia masih cukup besar, mengingat penetrasi pengguna internet di Indonesia (12,5%) masih kecil bila dibandingkan dengan negara lain, seperti Jepang (75,5%), Hongkong (69,2%), China (29,4%), atau dengan negara tetangga kita Singapura, Malaysia, dan Brunei yang masing – masing diatas 50%.

Apakah kondisi pasar ini menjadi potensial untuk melakukan e-commerce? Ternyuata berdasarkan survey yang dilakukan dilakukan oleh MARS, kebanyakan masyarakat di Indonesia masih menggunakan internet untuk keperluan social networking, browsing, downloading. Sedangkan untuk keperluan commerce masih dibawah 5 %. Seperti pada pie chart berikut, dimana persentase terbesar dilakukan untuk aktivitas emailing dan social networking (34%), kemudian disusul aktivitas browsing (32%), download (14,6%), chating (8,6%), akses multimedia (6,17%), selanjutnya baru aktivitas yang berkaitang dengan e-commerce, yaitu pemesanan barang (1,7%), dan booking tiket (1,28%). Aktivitas lain yang dilakukan para pengguna internet diantaranya adalah game online (1%), mencari info (jurnal, kesehatan, berita, memasak) dengan persentase dibawah 1%.

Hasil ini djuga didukung dari  penelitian pak Romi Satrio Wahono mengenai Top 100 Situs di Indonesia versi Alexa,  kebanyakan adalah situs social networking (13%), file repository (18%) dan news portal (11%). baru kemudian disusul internet business, search engine, dan online resource yang masing – masing 9 %. Berikut adalah pie chart selengkapnya :

Terkait langsung dengan aktivitas e-commerce, berdasarkan survey yang dilakukan oleh Synovate Indonesia ditahun 2008, disebutkan bahwa dari 2,5 juta pengguna internet hanya 16 % yang pernah melakukan transaksi Online, padahal menurut survey yang dilakukan secara terpisah oleh AC Nielsen ditahun yang sama, 88% dari pengguna internet mengetahui bahwa mereka dapat bertransaksi melalui internet.

Disatu sisi, hal ini dapat dilihat sebagai potensi yang besar, apabila barrier yang selama ini masih membayangi permasalahan e-commerce dapat segera dipecahkan. Menurut saya, barrier yang selama ini masih menjadi permasalahan klasik bagi pengguna internet sehingga mereka menjadi enggan untuk bertransaksi melalui internet adalah :

  1. Infrastruktur : Indonesia belum memiliki Public Key Infrastructure dan Certification Authorities sendiri, selain itu Indonesia belum memiliki aturan yang jelas terkait UU ITE, cybercrime, dan perlindungan konsumen dalam transaksi elektronik.
  2. Mental : Kebelumsiapan infrastruktur ini masih ditambah dengan banyaknya carder, cracker, phisser, dan frauder dari Indonesia. Hal ini tidak saja membuat masyarakat Indonesia menjadi enggan, namun Paypal pun sempat mem-black list Indonesia —  salah satu “hasil karya” mereka bisa dilihat di gambar teratas posting ini dimana situs BRI di deface.
  3. Mindset : Kedua hal diatas membuat sebagian besar masyarakat Indonesia masih beranggapan bahwa faktor keamanan dan kepercayaan dalam bertransaksi online ini masih rentan.

Hal ini didukung dengan data dari Verisign pada laporan kuartalnya di tahun 2004, yang memasukkan Indonesia sebagai negara dengan urutan pertama terkait presentase kasus fraud (presentase antara jumlah transaksi dengan kasus) dan urutan ketiga bila dilihat dari jumlah kasus nya. (Download Report) Pemerintah seharusnya memberikan perhatian khusus terhadap permasalahan ini, karena tentunya ini akan merusak citra Indonesia didunia internasional.

Berdasarkan info yang saya peroleh dari ICT Watch , yang turut mengutip hasil riset ClearCommerce pada saat itu, citra Indonesia sudah sangat buruk.  ClearCommerce Inc, sebuah perusahaan e-sekuriti yang berbasis di Texas, pada awal 2002 menyatakan bahwa Indonesia berada di urutan kedua negara terbanyak tempat beraksinya carder, secara serta-merta banyak situs e-commerce yang melakukan collective punishment terhadap komunitas Internet Indonesia. Pemblokiran nomor Internet Protocol (IP) Indonesia, kartu kredit Indonesia hingga pemesanan yang dari dan ke Indonesia akan segera ditolak.

ClearCommerce menyatakan bahwa sekitar 20 persen dari total transaksi kartu kredit dari Indonesia di Internet adalah cyberfraud, berdasarkan survey yang dilakukan terhadap 1137 merchant, 6 juta transaksi, 40 ribu customer, dimulai pada pertengahan tahun 2000 hingga akhir 2001. Collective punishment tersebut, sebenarnya secara parsial telah dilakukan oleh beberapa situs e-commerce jauh sebelum ClearCommerce mengeluarkan datanya. Sekarang, tekanan tersebut semakin telak memukul Indonesia. Tak cukup hanya itu, hingga saat ini nyaris semua para pengguna situs lelang kenamaan eBay.com sangat “takut” apabila bertransaksi dengan seseorang yang meminta pengiriman barangnya ditujukan ke suatu alamat di Indonesia. Bagi mereka, alamat di Indonesia sudah masuk dalam catatan black-list mereka.

Melihat pada kondisi yang “memalukan” di atas, maka ada baiknya saat ini juga kita segera mencari tahu duduk permasalahannya dan kemudian memfokuskan segenap aktifitas kita pada pemulihan nama baik Indonesia di mata komunitas e-commerce global. Sebab, berperilaku dan berbisnis di dunia Internet, landasan utamanya adalah adanya  kepercayaan (trust) antar para pelakunya. Hal ini diperparah dengan sulitnya para penegak hukum untuk mengejar kemajuan teknologi informasi di Indonesia (terkait dengan awareness dan technical capability) dan juga cyberlaw yang belum matang.  Padahal  kompleksitas sistem baik teknis dan bisnis semakin meningkat. Tentunya ini semakin membuat transaksi online menjadi sasaran empuk bagi para hacker, carder, dan cracker. Hal ini tentunya menjadi PR lagi buat Korps Polisi di negeri ini.

Bagi saya pribadi, selaku orang yang akhir – akhir ini sedang membuat kajian terkait e-commerce dan e-payment, beberapa fakta diatas menjadikan tantangan tersendiri tentunya dalam pengembangan produk /service yang akan dilakukan oleh perusahaan kedepannya. Entah itu membuat situs e-commerce macam bhinneka, tokopedia ataupun ebay, payment processors seperti Paypal, atau pun mendirikan Certification Authority – membutuhkan effort yang sangat besar terutama apabila regulasi masih simpang siur dan masyarakat dibayang – bayangi oleh mindset yang salah.

Sumber Inspirasi :

internetworldstats.com, ICT watch Indonesia, MARS, romysatriowahono.net, verisign.com

Desember 16, 2009 - Posted by | Saya dan Komputer |

5 Komentar »

  1. Pertamax…comment salam kenal gan…pertamax mampir

    Komentar oleh Yudhi | Desember 17, 2009 | Balas

  2. Semoga Indonesia bisa mengejar ketertinggalannya di dunia e-commerce. Sebenarnya sudah ada banyak aplikasi open source salah satu di antaranya adalah ZenCart yang sangat bagus untuk membuat
    online store
    . Masalahnya adalah kita belum memiliki payment gateway yang benar-benar bisa dipercayai dunia internasional. Oleh karena itu, Paypal masih menjadi pilihan utama bagi transaksi online.

    Doa’kan saja, semoga Payment Processor versi Indonesia segera release!!

    Komentar oleh Home Business Entrepreneur | Desember 29, 2009 | Balas

  3. semoga indonesia semakin melek akan teknologi dan bisa memanfaatkannnya sebagai kemakmuran masyarakat banyak.

    Komentar oleh rumah tenun troso | Desember 29, 2011 | Balas

  4. Indonesia BISSA !🙂😀

    Komentar oleh Handi Suryawinata | Agustus 25, 2013 | Balas

  5. Indonesia bisaaa!

    Komentar oleh Alfiyyah | April 12, 2014 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: