The Daniels Blog

Berpikir, Berpendapat, dan Berbagi

The Art of Listening

“Pendengar yang baik tidak hanya dapat diterima dimana-mana, tetapi

juga dapat mengambil hikmah dari apa yang didengarnya. “

Wilson Mizner, Playwright, 1876-1933

listeningSebagai makhluk sosial, tentunya kita (bangsa “Homo Sapiens“) tidak akan pernah lepas dari yang namanya berkomunikasi, entah itu bercerita, sekedar mengucap salam, ngobrol hingga beradu argumentasi atau berdebat. Bagi saya pribadi, ngobrol adalah hobi, bila ada waktu senggang, biasanya (kalo temen – temen saya juga senggang), kita biasa ngobrol sambil minum coklat atau kopi di café (ala mahasiswa). Nah, dari bermacam – macam jenis obrolan, mulai dari yang ringan – ringan, masalah kuliah, pacaran sampai berdebat masalah yang berat – berat dan dengan berbagai jenis manusia, dari yang enak diajak ngobrol, ngeyelan, sampai yang “gak banget” terkadang saat ngobrol saya “mbatin”: “ni anak jengkelin banget si!! uda nanya, dijawab, matanya malah seliwar seliwer ga jelas!!” – Mungkin temen – temen pernah merasakan hal serupa.

Terlepas dari karakter orang yang bersangkutan, setidaknya setiap orang mengerti etika berbicara dan mendengar, tentunya kita akan merasa tidak menikmati pembicaraan saat orang yang bersangkutan ini ga mau mendengarkan, tapi maunya didengarkan alias keras kepala. Terkadang kita terlalu cepat mengambil kesimpulan dari apa yang disampaikan oleh seseorang, apalagi dalam kondisi emosi – Nah, yang kaya gini ni namanya “hearing” bukan “listening”. Yang namanya listening itu, tidak hanya sebatas mendengar, namun meresapi dan menangkap “sesuatu” atau “inti” dari pembicaraan yang disampaikan orang lain, dan jangan harap kita bisa “listening” kalau kita dalam kondisi marah atau emosi.

Menjadi pendengar yang baik tidaklah mudah, namun saya rasa penting, sama pentingnya dengan ketrampilan berbicara, membaca dan menulis – namun kebanyakan orang kadang menyepelekannya. Kunci utama untuk menjadi pendengar yang baik adalah menghormati lawan bicara. Hal inilah yang sering “terlepas” dari kita saat berbicara dengan orang lain. Dalam sebuah perdebatan, terkadang kita tidak sadar bahwa “berdebat” berarti bertukar pikiran, dimana terkadang pikiran itu tidak sama bahkan berseberangan. Seringkali saat berdebat, saya menemui orang (entah temen, dosen, dsb) yang emosian, egois, terlalu memaksakan kehendak sehingga saya ada diposisi “tidak nyaman” untuk mengungkapkan pendapat saya (lho kok malah curhat).

Baca lebih lanjut

Iklan

Februari 20, 2009 Posted by | Cerita Saya, Pemikiran dan Pendapat Saya | , , | 5 Komentar